Ini Penjelasan Kantor Pos Blitar Soal Kontroversi "Indonesia Barokah"

BLITAR | PETAPORTAL-Kepala Kantor Pos Indonesia Blitar, Ayutani Paranita, menyatakan sebelumnya tidak mengetahui tentang kiriman Tabloid Indonesia Barokah yang kemudian menjadi kontroversi, karena pihaknya hanya berkewajiban mengantarnya sampai tempat tujuan sesuai dengan alamat dalam paket.

Ayu meghaku baru mengetahuinya Kamis (24/01/2019) setelah pihaknya mendapat informasi dari beberapa kantor pos lain terkait tabloid tersebut. Saat itu juga dia langsung menghentikan pendistribusian tabloid propaganda politik jelang makin dekatnya gelaran pemilu serentak 2019 dengan agenda pilpres dan pileg ini.

“Selain itu kita juga meminta penjelasan ke pusat (PT Pos Indonesia) agar segera memberi jawaban. Nah, semalam sudah mendapat instruksi dari pusat untuk menghentikan kiriman yang ada di kantor cabang. Makanya kita langsung menghentikan pendistribusiannya di 19 cabang kantor pos yang ada di Blitar,” tegas Ayutani, Sabtu (26/01/2019).

Walaupun begitu, dia mengakui beberapa tabloid tersebut sudah terlanjur beredar karena pihaknya belum mengetahuinya. Peredaran tabloid yang dianggap menyudutkan salah satu paslon presiden tersebut diduga telah menyasar ke sejumlah masjid dan pondok pesantren.

“Datangnya sekitar pekan lalu. Kalau jumlahnya sulit didata karena kirimannya seperti biasa bukan yang tercatat. Kirimannya tanpa resi dan tanpa bukti kiriman. Jadi kita susah mengidentifikasi jumlahnya. Kalau yang di sini sekarang ada 17-an bendel. Dan yang sudah terdistribusi ke kantor pos cabang sekitar 30 persen,” papar Ayutani.

Sekadar informasi, PT Pos Indonesia menyatakan tabloid Indonesia Barokah edisi Desember 2018 yang bikin geger ini dikirim dengan jenis layanan porto dibayar tunai. Artinya, paket kiriman besar itu menggunakan sistem pembayaran tunai tanpa perangko dan hanya satu resi. Ada dua kali pengiriman tabloid yang dialamatkan ke masjid-masjid dan pondok pesantren.

Manager Public Relation PT Pos Indonesia, Tita Puspitasari dalam keterangan tertulisnya, menyebutkan pengiriman pertama tanggal 10 Januari 2019. Kemudian tanggal 15-16 Januari 2019. Jumlah total kiriman sebanyak 260.792 pack dengan berat masing-masing 2.000 gram.

Disebutkan, porto dibayar tunai merupakan paket kiriman besar. Setelah dicap paket disortir per kecamatan. Setelah itu disortir lagi dan dibungkus dengan pelapis kantong  berdasarkan daerah alamat yang akan dituju. Layanan ini sifatnya tak terbukukan sehingga tidak dapat dilacak dalam sistem track and trace PT Pos Indonesia. Berbeda dengan porto dibayar dengan perangko yang akan tercatat.

Pihak tabloid Indonesia Barokah sebagai pengirim menuliskan alamat masjid dan pondok pesantrennya yang akan dituju. Semua paket dimasukkan ke dalam amplop tertutup. Ada standard operating procedure (SOP) baku setiap perusahaan jasa kurir yang tidak boleh membuka paket kiriman, karena sifatnya kerahasian surat itu sendiri. Semua iitu dilindungi oleh aturan undang-undang nomor 38 tahun 2009 tentang pos. []

Read Previous

Sejumlah Balai Desa di Kabupaten Blitar Disasar "Indonesia Barokah"

Read Next

Ketua PWI Blitar: Pemerintah Harus Tegas Berangus Media Abal-abal

Tinggalkan Balasan