Membumikan Pelajaran Bahasa Indonesia di Tengah Euforia Bahasa Asing 1

Tak  bisa disangkal bahwa siswa cenderung menganggap pelajaran bahasa Indonesia itu menjemukan.Fenomena yang kerap terjadi di sekolah, salahsatunya adalah nilai siswa untuk mata pelajaran bahasa Inggris ternyata lebih tinggi daripada nilai mata pelajaran bahasa Indonesia.

catatan: Hendik Budi Yuantoro (HBY)

Tidak jarang siswa merasa pelajaran bahasa Indonesia itu susah, sehingga lebih tertarik mempelajari bahasa asing (baca: Inggris). Hal ini menimbulkan tanya. Apakah pelajaran bahasa Indonesia di sekolah sudah mampu membuat siswa merasakan manfaat belajar bahasa Indonesia? Dalam hal ini, peran guru bahasa Indonesia memegang kunci penting dalam menumbuhkan gairah siswa untuk mengeksplorasi kecerdasan berbahasa.

Tak bisa dipungkiri, bahwa siswa cenderung menganggap pelajaran bahasa Indonesia itu menjemukan. Ia dianggap enteng, dan mengarah pada disepelekan. Teori-teori dijejalkan namun aplikasinya tidak terasa dalam kehidupan. Siswa hanya sibuk menghafal syarat-syarat pantun, unsur-unsur intrinsik sebuah cerita, penulisan huruf kapital dan tanda baca, macam-macam paragraf dan lainnya. Yang penting, bisa menjawab soal ulangan dan mendapat nilai bersinar.

Bila dikaji, sebenarnya inti pelajaran bahasa Indonesia adalah membaca dan menulis. Dua kemampuan ini juga secara umum merupakan modal dasar dalam mencari ilmu. Maka, mendorong siswa untuk suka membaca dan menulis adalah sebuah keniscayaan dalam interaksi pelajaran bahasa Indonesia.

Membaca dan menulis merupakan kegiatan yang tidak bisa dielakkan dalam kehidupan ini. Menjadi apa pun seseorang, membaca sangat penting untuk membuka cakrawala pandangnya tentang pengetahuan dan informasi-informasi terkini. Membaca adalah jembatan untuk melihat dunia, karena buku merupakan gudang ilmu, sumur informasi yang tak pernah kering. Sedangkan menulis, dibutuhkan agar seseorang terampil menuangkan gagasan dan ilmu yang dimilikinya, sehingga tersebar luas di masyarakat.

Rupa-rupa teori dalam materi pendukung pelajaran bahasa Indonesia harus dipahami sebagai sarana menuju kegiatan menulis. Sehingga siswa menghafal bukan semata demi pencapaian nilai ulangan, namun tumbuh kesadaran bahwa hal-hal tersebut berguna dalam proses membuat tulisan yang baik.

Kegiatan membaca bukan sekedar membaca lalu selesai. Dalam pelajaran bahasa Indonesia, siswa dituntun agar mampu membuat resensi yang baik, menyimpulkan sebuah gagasan, mengulas pokok bahasan, menyampaikan presentasi mengenai isi buku, mengupas unsur-unsur yang terkandung dalam cerita, dsb. Maka, kegiatan membaca dan menulis saling terkait.

Dalam hal menumbuhkan gairah membaca dan menulis, diawali oleh kemapanan pengetahuan tentang bahasa Indonesia yang dimiliki guru. Alternatif yang bisa ditempuh yaitu melalui pembekalan-pembekalan yang digelontorkan oleh praktisi perbukuan yang paham benar tentang kecerdasan berbahasa. Para guru perlu mengeksplorasi kemampuannya agar siap menggiring siswa menuju gerbang kecerdasan berbahasa (baca: membaca dan menulis). []

Read Previous

Bupati Blitar Ingatkan Kepala Desa Baru Jangan Egois dan "Semau Gue"

Read Next

Lagi, 164 Desa di Kabupaten Blitar akan Gelar Pilkades Serentak

Tinggalkan Balasan