Membumikan Pelajaran Bahasa Indonesia di Tengah Euforia Bahasa Asing: Bagian 2

Tak terbantahkan lagi, menjadi guru bahasa Indonesia bukan perkara mudah. Butuh keahlian mumpuni seperti halnya guru-guru bidang studi lain. Bukan menjadi pilihan terakhir yang dianggap paling sederhana dan enteng dijalankan.

catatan: Hendik Budi Yuantoro (HBY)

Pembelajaran bahasa Indonesia masih sering menunjukkan pembelajaran secara teoritis. Padahal hakikat belajar bahasa Indonesia adalah belajar keterampilan menyimak, membaca,menulis dan berbicara. Keempat aspek tersebut merupakan unsur yang semuanya harus dapat dilaksanakan siswa selama pembelajaran.

Pembelajaran bahasa Indonesia pada aspek menulis selama ini terkesan kurang maksimal. Padahal keterampilan menulis sangat penting diberikan kepada siswa untuk melatih menggunakan bahasa secara aktif. Disamping itu di dalamnya tercakup banyak unsur pembelajaran kebahasaan termasuk kosa kata dan keterampilan penggunaan bahasa itu sendiri dalam bentuk bahasa tulis.

Akan tetapi dalam hal ini guru bahasa Indonesia dihadapkan pada dua masalah yang sangat dilematis. Di satu sisi guru bahasa harus dapat menyelesaikan target kurikulum yang harus dicapai dalam kurun waktu yang telah ditentukan.

Sementara di sisi lain porsi waktu yang disediakan untuk pembelajaran menulis relatif terbatas, padahal untuk menulis seharusnya dibutuhkan waktu yang cukup panjang, karena diperlukan konsentrasi, pemahaman menyusun kalimat dan paragraf-paragraf sehingga tersusun sebuah karya tulis yang layak untuk dibaca.

Waktu yang dibutuhkan untuk berlatih guna mencapai keterampilan tersebut relatif lama. Dari dua persoalan tersebut kiranya dibutuhkan kreatifitas guru untuk menyusun rencana sedemikian rupa sehingga materi pelajaran menulis dapat diberikan semaksimal mungkin dengan tidak mengesampingkan materi yang lain.

Guru bahasa Indonesia pada umumnya kurang maksimal memberikan pembelajaran menulis. Faktor penyebabnya antara lain karena sistem ujian yang biasanya menjabarkan soal-soal yang sebagian besar besifat teoritis disamping jumlah siswa di kelas yang relatif terlalu besar yaitu berkisar antara empat puluh hingga empat puluh lima orang.

Materi ujian yang bersifat teoritis dapat menimbulkan motivasi guru bahasa mengajarkan materi hanya untuk dapat menjawab soal-soal ujian, sementara aspek keterampilan diabaikan. Sedangkan dengan kelas yang besar konsekuensinya biasanya guru enggan memberikan pelajaran menulis, karena guru harus memeriksa tulisan siswanya yang berjumlah mencapai empat puluh sampai empat puluh lima lembar, kadang hal itu masih harus berhadapan dengan tulisan-tulisan siswa yang notabene sulit dibaca.

Belum lagi ia harus mengajar lebih dari satu kelas atau mengajar di sekolah lain, berarti yang harus diperiksa empat puluh kali sekian lembar tulisan. Oleh karena itu, tidak jarang guru memberi tugas menulis kepada siswa hanya sebulan sekali atau bahkan hanya sekali dalam satu semester.

Disamping faktor sistem ujian dan jumlah siswa yang relatif besar di kelas, guru bahasa Indonesia juga dihadapkan pada persoalan perhatian dan respon siswa ketika pembelajaran menulis yang sering membuat guru jadi kurang bersemangat. Terlepas dari faktor-faktor lain yang menyebabkan motivasi siswa untuk berlatih menulis berkurang, sebaiknya guru
bahasa Indonesia segera mengambil tindakan untuk mengubah paradikma pembelajaran yang lebih inovatif sehingga perhatian siswa terhadap pembelajaran menulis lebih maksimal. []

Read Previous

Warga Kabupaten Blitar Tak Berminat jadi Dokter Spesialis PNS

Read Next

Jokowi Ingatkan Persediaan Air Jangan Sampai Menimbulkan Bencana

Tinggalkan Balasan