Membumikan Pelajaran Bahasa Indonesia di Tengah Euforia Bahasa Asing: Bagian akhir.

Dalam hal menumbuhkan gairah membaca dan menulis, diawali oleh kemapanan pengetahuan tentang bahasa Indonesia yang dimiliki guru. Lantas seperti apa guru bahasa yang  ideal?

catatan: Hendik Budi Yuantoro (HBY)

Seorang guru bahasa Indonesia dituntut cerdas dan mengasyikkan. Kreativitasnya dibutuhkan untuk mengasah siswa dalam kecerdasan berbahasa. Siswa disodorkan buku-buku karya sastra yang baik untuk dibaca dan ditelaah. Dibekali pula dengan ilmu meracik kata secara intens.

Bagaimana membuat deskripsi yang cantik, membangun tokoh dengan karakter yang kuat, menulis esai yang bernas, membuat poster yang menggigit, meresensi buku dengan cerdas, mencipta slogan yang renyah,dll. Maka pelajaran bahasa Indonesia menjadi penuh kegiatan yang menggairahkan.

Dalam hal menulis, siswa sebaiknya dibuat akrab dengan kertas dan pena. Mereka dikondisikan untuk tidak memiliki ketergantungan pada komputer dan sejenisnya. Tujuannya agar di mana pun berada, mereka tetap bisa menulis dengan cukup bermodalkan kertas dan pena.

Tugas-tugas menulis bagi siswa harus memberi ruang yang lapang untuk mengeksplorasi imajinasi dan olah pikir, yang paduannya menghasilkan karya tulis apik dengan tema-tema menarik. Siswa terbiasa lincah memainkan kemampuan olah kata, keliaran imajinasi, keseimbangan logika, kedalaman olah pikir, dalam tarian pena mereka.

Yang tidak kalah penting, guru bahasa Indonesia juga harus mengerti betul pentingnya sebuah apresiasi. Dalam setiap penilaian tugas, seyogianya ditulis beberapa baris kalimat penyemangat berkaitan dengan pekerjaan yang dilakukan siswa. Meski hasil pekerjaan kurang memuaskan.

Stidaknya ia sudah berusaha. Karena kegiatan menulis ini bukan berarti mengharuskan siswa menjadi penulis profesional. Siswa diharapkan mampu menuangkan ide setelah mengendus sisi-sisi kehidupan bermasyarakat. Maka, slogan 'katakan dengan
tulisan' menjadi bagian dari kebiasaan mereka.

Bila dilihat lebih jauh, pilihan menyampaikan gagasan secara verbal yang lebih dominan, menjadikan seseorang lebih spontan dan mudah tersulut. Demo-demo mahasiswa tidak jarang berujung kekerasan. Padahal mahasiswa sebagai cikal bakal kaum intelek negeri ini sudah selayaknya menampilkan model bermasyarakat yang elegan dan bermartabat. Jika pelajaran bahasa Indonesia sejak dini merasuk sempurna, bukan tidak mungkin generasi muda kita tampil sebagai generasi cerdas dan berkualitas.

Semoga para guru bahasa Indonesia lebih memahami peran dan fungsinya. Mereka akan sanggup mengubah tampilan pelajaran bahasa Indonesia menjadi lebih berbobot tanpa meninggalkan unsur menyenangkan. Mereka adalah kekuatan besar yang harus siap mengantarkan siswa sebagai generasi masa dating yang memiliki kecintaan dan kemapanan berbahasa Indonesia. []

 

Telaah kaki:  Hendik Budi Yuantoro (HBY) adalah Pemimpin Umum Petaportal dan Caleg PDIP DPRD Kabupaten Blitar Dapil 4 (Gandusari, Selopuro, Garum dan Talun)

Read Previous

Pengumuman Kelolosan Molor, Peserta Tes CPNS Kemenag 2018 Mumet

Read Next

Belanja Pegawai Pemkab Blitar 2019 Sedot Hampir Rp 34 M

Tinggalkan Balasan