Sejumlah Balai Desa di Kabupaten Blitar Disasar "Indonesia Barokah"

BLITAR | PETAPORTAL-Heboh penyebaran tabloid propaganda politik Indonesia Barokah melalui jasa pengiriman PT Pos Indonesia akhirnya sampai juga ke sejumlah pondok pesantren dan takmir masjid di Jawa Timur. Salah satunya di wilayah Kabupaten Blitar.

Hanya saja, sejumlah paket berisi Tabloid Indonesia Barokah tersebut tidak langsung dikirim kurir PT Pos Indonesia ke alamat sejumlah pondok pesantren dan masjid melainkan di-delay ke balai desa sesuai wilayah alamat yang tertera karena diduga tidak lengkap seperti pencantuman nama jalan, RT/RW, dan hanya menyebut nama desa/kelurahan serta kecamatan.

Ketua Bawaslu Kabupaten Blitar, Hakam Sholahudin, mengatakan, sejak Kamis (24/01/2019) di wilayah Kabupaten Blitar sudah ditemukan peredaran tabloid yang seolah bermetamorfosa, beralih konten berganti kepentingan dengan Tabolid Obor Rakyat 2014 lalu yang kini sudah padam, ditemukan sudah beredar pada di tiga desa di Kecamatan Doko. Yakni Desa Kalimanis, Suru dan Desa Genengan.

Nah, tabloid itu tidak langsung diserahkan ke takmir masjid melainkan ke kantor desa (balai desa). Pihak desa yang bingung langsung  melakukan kordinasi dengan kami. Sekarang tabloid (Indonesia Barokah) dititipkan di kantor Bawaslu,” jelas Hakam di kantor Bawaslu Kabupaten Blitar, akhir pekan ini.

Langkah selanjutnya, kata dia, pihaknya menginstruksikan kepada panwascam untuk mencegah terdistribusinya tabloid itu semkain meluas. Karena dikhawatirkan bisa meresahkan masyarakat yang membacanya.

Menurut Hakam, secara konten dari tabloid tersebut saat ini masih dalam kajian antara Bawaslu RI dan dewan pers sebagai gugus tugas untuk mengkaji apakah termasuk karya jurnalistik atau bukan.

“Jadi kalau di koran atau tabloid kan ada susunan redaksi dan badan hukumnya apakah itu berbentuk CV, PT dan lain sebagainya. Kalau tidak ada tentunya bukan karya jurnalistik. Makanya itu yang akan dikaji dewan pers,” imbuhnya.

Sebagai informasi, dewan pers telah memberikan kesimpulan sementara dari analisa mengenai konten Tabloid Indonesia Barokah. Dewan Pers tidak menemukan pekerjaan jurnalistik dalam barang cetakan seukuran tabloid itu.

“Meskipun hasilnya belum utuh, kami melihat (Indonesia Barokah) lebih berupa berita-berita round up pemberitaan yang sudah ada dari media lain,” kata Ketua Dewan Pers Yosep Stanley Adi Prasetyo dikutip dari laman tempo.co, Jumat (25/01/2019).

Dia menjelaskan, di dalamnya tak ada wawancara langsung dengan narasumber. Tabloid itu juga tidak menyertakan verifikasi, klarifikasi, dan konfirmasi kepada narasumber yang disebutkan dalam berita yang mereka tayangkan.

Selain itu, dewan pers juga memeriksa awak redaksi yang tertulis namanya dalam tabloid itu. Namun tak ada satupun nama mereka yang tercatat pernah mengikuti uji kompetensi wartawan di dewan pers.

Analisis tersebut dilakukan setelah dewan pers bekerja sama dengan Polri dan Bawaslu, terutama Bawaslu Jawa Tengah. Mereka mendapatkan tabloid itu dan mengkajinya. []

Read Previous

Setelah "Menghilang" 3 Tahun Adipura Kembali lagi ke Kabupaten Blitar

Read Next

Ini Penjelasan Kantor Pos Blitar Soal Kontroversi "Indonesia Barokah"

Tinggalkan Balasan